Beri reaksi
Komentari
Lihat detail
Masuk
Tayang 403x
Hanya aku kaum minoritas

Dahulu sewaktu aku baru pindah dari jakarta ke medan, di tempat pertama aku sekolah masih baik baik saja sampai akhirnya aku pindah lagi ke daerah yang dimana tempatnya adalah perbatasan antara kota medan dan binjai. aku tinggal dimana tempat dinana para pujakesuma (putra putri jawa kelahiran sumatera) berada dan kebetulan di tempat aku tinggal hanya keluargaku sendiri yang batak dan beragama kristen. untuk dari sisi orang tuaku sii aku tidak melihat adanya hal hal yang aneh seperti semua terlihat baik baik saja adanya toleransi bahkan setiap lebaran tetangga ngasih kue kerumah dan pada saat tahun baru juga sebaliknya ibu sering memberi kue kerumah tetangga terangga tersebut. sampai pada saat aku masuk ke sekolahku yang baru hal hal pembullyan itupun kurasakan pada saat aku masih SD. aku memiliki sahabat yang berbeda agama tapi hanya dia temanku pada saat itu dia tidak mempermasalahkan tentang agamaku kami selalu bersama pada saat bermain maupun belajar sampai pada saat kamu pulang sekolah kami di keroyok oleh orang yang tidak kami kenal awalnya satu orang gemuk dan satunya lagi kecil kecil karna sahabatku ini badannya kecil dia langsung terpental oleh orang gemuk itu sisa aku yang akhirnya satu lawan 2 aku hampir tidak sanggup lagi pada saat itu aku dipukuli terus tanpa ku tau kesalahanku ataupun temanku. tapi TUHAN masih melindungiku dengan mengirimkan bapak bapak melihat perkelahian itu dan melerai kami. setelah selesai dari situ aku berusaha mencoba mencari cari tau kenapa aku bisa keroyok?. kenapa semua itu tiba tiba terjadi?. semakin aku cari tau dan semakin lama aku tinggal disitu orang orang sepantaranku sepertinya tidak setoleran orang tua mereka aku selalu di katakan oleh mereka "heh kau orang kristen. kau gak bakalan masuk surga dasar batak” kira kira perkataan yang mirip seperti itulah yang selalu ku ingat. lalu setiap kali aku mencoba bersosialisasi dengan mereka, mereka seperti menganggapku orang yang tidak pantas berada di dekat mereka. sekolahku yang jelas jelas sekolah negeri di katakan "sekolah batakaan” (batakan) disana walaupun mengacu pada suku tapi itu menandakan mereka menganggap orang batak itu gak baik. tapi di satu sisi aku berusaha untuk melawan itu tapi memang keadaan dari dikampung situ sudah terdidik untuk intoleran terhadap orang orang seperti kami. dan btw aku selalu fight terkait pembullyan yang berusaha untuk menyerangku dengan bully bullyan mereka. untuk kalian semua yang mengalami pembullyan "LAWANLAH DENGAN APAPUN CARANYA”. bahkan pembullyan itu masih berlanjut ke keponakanku yang masih SD dan keponakan itu tinggal dirumahku itu. sementara aku sudah merantau kejakarta dan aku selalu mengajarkan ke mereka untuk LAWAN!.

Berikan reaksi pada cerita ini
Terima Kasih
Semangat
Sayang Kamu
Peluk
Menginspirasi
Laporkan
Kuatkan Dirimu
Jangan Menyerah
Hormat
Empati
Dukung
Bersamamu
Berbagi Pengalaman
Komentar (0)
Belum ada komentar